Doa merupakan bentuk permohonan seorang hamba kepada Tuhannya saat
menginginkan sesuatu. Ada yang doanya terkabul dengan cepat, ada yang
harus menunggu lama, dan ada pula yang tidak kunjung dikabulkan hingga
akhir hayatnya.
Sejatinya manusia hanya bisa berdoa dan berharap, namun keputusan
diterima atau ditolaknya doa tersebut tetap Allah SWT yang menentukan.
Sehingga setelah berdoa dan berusaha, kita harus memasrahkan diri. Sebab
segala sesuatu yang Allah Ta’ala berikan pasti yang terbaik untuk
hamba-Nya.
![]() |
| Inilah Lelaki yang Setiap Berdoa Selalu Dikabulkan |
Namun tahukah kamu bahwa ternyata ada seorang lelaki yang doanya
selalu dikabulkan oleh Allah SWT. Bukan hanya doa yang baik, bahkan doa
buruk yang ia ucapkan tidak ada satu pun yang ditolak. Sehingga
orang-orang menyebutnya si pemilik doa mustajab. Lalu siapakah lelaki
tersebut ? Bagaimana bisa ia mendapatkan keistimewaan itu ? Berikut
ringkasan selengkapnya.
Lelaki ini merupakan orang ketiga yang memeluk Islam dan orang
pertama yang melepaskan anak panah dari busurnya di jalan Allah. Ia
adalah Sa’ad bin Abi Waqqash bin Wuhaib bin Abdi Manaf yang juga
merupakan paman Rasulullah SAW.
Bahkan ketika Rasulullah SAW sedang duduk bersama para sahabatnya,
beliau memuji dan bergurau dengan Sa’ad dengan berkata, “Ini pamanku,
maka hendaklah seseorang memperlihatkan pamannya kepadaku.” (HR.
al-Hakim 6113 dan at-Tirmidzi 3752. At-Tirmidzi mengatakan hadist ini
hasan).
Seperti sahabat lainnya, keislaman Sa’ad mendapatkan pertentangan
dari sang Ibu. Ibunya ingin agar putranya kembali satu keyakinan
bersamanya yaitu menyembah berhala dan melestarikan ajaran leluhur.
Sehingga ibunya mulai mogok makan dan minum untuk menarik simpati
putranya yang sangat menyayanginya. Dan ia baru akan makan dan minum
jika Sa’ad meninggalkan agama baru tersebut.
Hal itu berlangsung cukup lama, sehingga kondisi sang ibu terllihat
mengkhawatirkan. Sehingga keluarganya pun memanggil Sa’ad dan
memperlihatkan keadaan ibunya yang sekarat. Seolah-olah pertemuan ini
merupakan hari perpisahan menjelang kematian.
Meski menyaksikan kondisi sang ibu yang begitu menderita, namun
keimanannya kepada Allah SWT dan Rasulnya berada diatas segalanya. Sa’ad
pun berkata, “Ibu, demi Allah. Seandainya ibu memiliki 100 nayawa, lalu
satu persatu nyawa itu binasa. Aku tidak akan pernah meninggalkan agama
ini sedikitpun. Makanlah wahai ibu, jika ibu menginginkannya. Jika
tidaK, maka itu juga pilihan ibu.”
Hingga akhirnya sang ibu pun menghentikan mogok makan dan minum. Ia
menyadari bahwa kecintaan anaknya terhadap agamanya tidak akan berubah
dengan aksi mogok yang ia lakukan. Dengan adanya peristiwa ini, Allah
SWT pun menurunkan sebuah ayat yang membenarkan sikap Sa’ad bin Abi
Waqqash.
“Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku
sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu
mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan
ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah
kembalimu, maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.”
(QS: Luqman | Ayat: 15).
Disamping itu, Sa’ad bin Abi Waqqash juga merupakan sosok pemuda
yang pemberani dan kuat. Bahkan sedari kecil ia sangat menyukai memanah
dan membuat sendiri busur panahnya.
Selain itu ia juga merupakan orang pertama dalam Islam yang
melemparkan anak panah dijakan Allah SWT. Sa’ad juga merupakan
satu-satunya orang yang dijamin Rasulullah SAW dengan jaminan kedua
orang tuanya. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW dalam perang Uhud,
“Panahlah, wahai Sa’ad ! Ayah dan ibuku menjadi jaminan bagimu.”
Kemudian Rasulullah SAW pun meminta kepada Allah SWT agar semua doa
Sa’ad menjadi doa yang mustajab dan tidak tertolak. Sebagaimana
diriwayatkan, Rasulullah SAW bersabda, “Ya Allah, tepatkanlah lemparan
panahnya dan kabulkanlah doanya.” (HR. Al-Hakim, 3/500)
Oleh karena itulah, segala doa yang diminta oleh Sa’ad selalu
dikabulkan oleh Allah SWT. Bukan hanya doa yang baik, doa buruk yang
diucapkan Sa’ad pun selalu dikabulkan oleh Allah SWT.
Sebagaimana diceritakan dari Jabir ra bahwa penduduk Kufah
mengadukan Sa’ad kepada khalifah Umar bin Khattab. Oleh karenanya Umar
pun mengutus seseorang untuk bertanya tentang Sa’ad kepada orang-orang
Kufah. Sehingga utusan tersebut berkeliling dari masjid ke masjid di
Kufah dan semua orang yang ditanyainya memberikan penilaian yang positif
terhadap Sa’ad.
Namun ketika ia berhenti di sebuah masjid dan bertemu seorang lelaki
yang bernama Abu Sa’dah, lelaki itu berkata, “Kami mengadukan Sa’ad
karena ia tidak membagi rampasan secara sama rata, tidak berjalan
bersama pasukannya dan tidak berlaku adil dalam menghukumi sesuatu.
Sehingga utusan itu pun menyampaikan perihal itu kepada Sa’ad, lalu
Sa’ad pun berdoa, “Ya Allah, kalau ia berdusata maka panjangkanlah
umurnya, panjangkanlah kefakirannya dan timpakan berbagai fitnah
kepadanya.”
Kemudian Ibnu Amir menceritakan bahwa ia menyaksikan bahwa lelaki
yang mengadukan Sa’ad itu berumur panjang. Bahkan alisnya menutupi
matanya karena begitu panjangnya umurnya, ia betul-betul ditimpa
kemiskinan dan disebuah jalan ia pernah bertemu dengan budak-budak
perempuan lalu merabanya, sehingga ia pun terkena fitnah. Dan saat
ditanya, “Mengapa kamu bisa jadi begini?” Ia menjawab, “Aku menjadi tua
bangka dan terkena fitnah karena doa Sa’ad.” (Diriwayatkan oleh Bukhari,
Muslim, dan Al-Baihaqi dari jalur Abdul Mulk bin Amir)
Dalam riwayat lain diceritakan bahwa ada seorang laki-laki muslim
yang mengejek Sa’ad. Kemudian Sa’ad pun berdoa, “Ya Allah, potonglah
lidah dan tangannya dengan kehendak-Mu.” Dan pada waktu perang
Kadisiyah, lelaki itu terlempar hingga lidah dan tangannya putus.
Sehingga ia tidak bisa berbicara sepatah katapun sampai ajal
menjemputnya. (Diriwayatkan oleh Al Thabrani, Ibnu `Asakir dan Abu Na’im
dari Qabishah bin Jabir)
Kemudian disebutkan bahwa Sa’ad mendoakan keburukan untuk seorang
laki-laki. Dan tiba-tiba lelaki itu tertubruk seekor unta betina hingga
ia mati. Lalu Sa’ad menahan nafas dan bersumpah tidak akan mendoakan
buruk untuk seorang pun. (Riwayat Al-Hakim dari Mush’ab bin Sa’ad).
Selanjutnya Al-Hakim meriwayatkan dari Ibnu Al-Musayyab bahwasanya
Marwan pernah berkata, “Harta ini milik kami, maka kami berhak
memberikannya kepada orang yang kami kehendaki.” Lalu Sa’ad mengangkat
kedua tangannya dan berkata, “Aku akan beroda.” Kemudian Marwan pun
meloncat dan merangkul Sa’ad sambil berseru, “Engkau akan berdoa kepada
Allah, wahai Abu Ishaq. Tolong jangan berdoa, karena harta ini milik
Allah.”


0 Response to "Inilah Lelaki yang Setiap Berdoa Selalu Dikabulkan"
Posting Komentar